Hacker Pintar tak Tinggalkan Jejak

Aksi peretasan ratusan situs Australia oleh anonymous Indonesia kerap masuk media massa nasional. Beberapa waktu yang lalu para hacktivist di Indonesia telah merusak sekitar 300 situs Australia. Mereka juga melakukan protes kepada Australia atas dugaan operasi spionase gabungan dengan Amerika Serikat (AS) di Indonesia. Tetapi beberapa pihak memiliki penilaian tersendiri tentang aksi para hacker ini.

anonymous-indonesia

[Ads] Download eBook Gratis tanpa syarat, tanpa harus registrasi.

I Made Wiryana, pakar komputasi di Indonesia mengatakan bahwa seorang hacker tidak sepantasnya meninggalkan jejak pada situs yang diretasnya. Ahli Linux Indonesia itu juga berpendapat bahwa seharusnya jika seseorang berhasil menjebol sistem keamanan suatu situs, tidak perlu sampai diketahui oleh pemilik situs yang bersangkutan.

Beliau menjelaskan bahwa pengacakan data atau enkripsi sebenarnya merupakan bagian kecil dari ketrampilan di bidang computer security sedangkan yang jauh lebih urgent adalah mengamankannya.

Sesuai dengan pengalaman dan pemahamannya di dunia IT, para profesional di bidang IT yang menggandrungi komputasi dalam jangka waktu yang lama biasanya lebih tertarik untuk membangun sebuah sistem pengaman yang bagus daripada menjebol pertahanan milik pihak lain. Meskipun, jika ingin membangun suatu sistem keamanan yang canggih juga pasti tahu bagaimana cara mengaksesnya.

Ditegaskannya bahwa para ekspert lebih tertarik pada perancangan sistem keamanan ketimbang menjebol. Mereka yang biasanya melakukan peretasan ini biasanya newbie atau para pemula yang baru belajar. Wajar jika seorang pemula meninggalkan jejak untuk sekedar diakui kemampuannya. Tetapi ulah yang sedikit sembrono itu juga bisa memunculkan spekulasi yang buruk terhadap Negara sendiri meskipun hanya dilakukan oleh satu orang saja. Kini anda bisa menilai sendiri apakah aksi meninggalkan jejak oleh para peretas bisa dipandang sebagai tindakan yang bijak dan dewasa atau justru sebaliknya.

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh perusahaan riset  Akamai, menampilkan laporan bahwa sejumlah 38% trafik internet dunia berasal dari Indonesia dan bermuatan malware. Kaitannya menurut Made adalah dengan aksi peretasan para hacker Indonesia yang doyan menampakkan jejaknya.

Beliau menjelaskan bahwa jumlah 38% itu merupakan jumlah yang terdeteksi saja. Beberapa peretas lain yang melakukan tindakan attacking tidak semuanya meninggalkan jejak secara terang-terangan. Jumlah itulah yang membuat Indonesia tercatat sebagai trafik terbanyak yang menyebar malware.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *